Jika di Riau merasa bangga, kali ini di "kampung" sendiri saya justru merasa sedih dan prihatin. Karena alasan sulitnya tercapai mufakat di tengah-tengah masyarakat yang multietnik akhirnya DPRD tidak mau ambil pusing ( juga resiko?). DPRD Sumatera Utara mengusulkan Bandara Internasional Kuala Namu sebagai nama bandara pengganti Polonia yang memang berada di Kuala Namu. Salah satu kebanggaan Sumatera Utara adalah kemajemukan masyarakatnya namun tetap bisa bersatu. Bahkan ada julukan Sumatera Utara adalah miniatur Indonesia. Namun, mengapa hanya urusan penamaan bandara kita menjadi begitu sulit menyatukan kata untuk kepentingan bersama?
Apakah nama sekelas Haji Adam Malik juga tidak bisa diterima rakyat Sumatera Utara hanya untuk nama sebuah bandara?. Sejarah mencatat, Haji Adam Malik adalah tokoh kemerdekaan asal Sumatera Utara yang pernah menjadi menteri luar negeri, pemimpin sidang majelis umum PBB, ketua DPR/MPR dan wakil presiden.
Dahulu Haji Adam Malik sudah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Seandainya nama beliau diabadikan menjadi nama bandara Kuala Namu maka setiap pesawat yang terbang dari bandara Kuala Namu juga akan "menerbangkan" semangat Haji Adam Malik ke seluruh dunia yang tentu akan mengharumkan masyarakat Sumatera Utara juga.
Jika rakyat Sumatera Utara tidak berminat, semoga ada kota lain di Indonesia yang mengabadikan nama Haji Adam Malik (HAM ) menjadi nama bandaranya
Sumber : Analisa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar