"Ria Godang" untuk Selamatkan Danau Toba!

Jumat, 30 November 2012


Siapa yang tak mengakui keindahan dan dahsyatnya pesona alam kawasan Danau Toba? Setiap orang yang melihatnya niscaya akan takjub berdecak kagum akan keindahan panorama dan permai alamnya. Begitu "dahsyatnya" pesona Danau Toba, sampai-sampai komponis Nahum Situmorang memujanya dalam lirik lagu terkenal, "O Tao Toba raja ni sudena Tao; Tao na sumurung na lumobi ulimi; Molo huida rupami sian na dao; tudos tu intan do denggan jala uli,...." (O, Danau Toba Raja-nya semua Danau; Danau terunggul nan permai; Bila kulihat dari jauh; laksana intan, yang cantik dan memesona).
Nestapa Danau Toba

Namun di balik keindahannnya, Danau Toba adalah tragedi dan nestapa. Perlakuan terhadap Danau Toba tak seindah panorama yang dipancarkannya kepada manusia. Entah karena kesengajaan, ketololan, atau kejahatan, dalam waktu yang lama kawasan Danau Toba (sengaja) dibiarkan bak kawah air comberan. Ia nyaris tak dianggap di republik ini. 

Alih-alih dijadikan aset atau objek vital nasional yang dijaga dan dilindungi, dengan alasan investasi, kawasan Danau Toba justru ‘dibiarkan’ menjadi kawasan yang "bebas" untuk dieksploitasi. Celakanya, praktik pembiaran perusakan tersebut sepertinya berlangsung sistemik karena melibatkan nyaris semua aktor pemangku kepentingan di republik ini. 

Yang pertama adalah Pemerintah (Pusat). Karena ketiadaan political will dan visi pengelolaan Danau Toba, Pemerintah baru menetapkan Danau Toba sebagai kawasan strategis nasional tahun 2008 lewat Peraturan Pemerintah (PP) No. 26/2008. 

Sayangnya hingga tulisan ini dibuat, PP itu belum disertai dengan adanya regulasi derivatif operasional di lapangan. Akibatnya PP No 26/2008 tak lebih dari macan kertas. Tak ada perbaikan berarti dalam pengelolaan Kawasan Danau Toba pasca lahirnya PP 26/2008 tersebut. Kawasan Danau Toba tetap menjadi kawasan yang akrab dengan perambahan dan perusakan sumber daya alam, khususnya hutan. Aktor dan korporasi perusak hutan dan pemerkosa sumber daya alam, mulai dari skala kecil hingga skala besar, baik yang bekerja sendirian maupun yang berkolaborasi dengan elit dan aparat keamanan, tetap bebas bergentayangan mengeksploitasi kekayaan Danau Toba dan hutan sekitarnya. Tak heran, dari tahun ke tahun kawasan Danau Toba makin kritis. Hutan di sekelilingnya hancur, kwantitas dan kwalitas air makin merosot, dan kwalitas ekosistem pun makin memburuk. 

Aktor kedua adalah Pemerintah Daerah (propinsi dan Kabupaten di kawasan Danau Toba). Mereka merupakan pihak yang juga harus menanggung "dosa" dari nestapa Danau Toba. Argumennya jelas. Hingga kini mereka tak membuat satupun prakarsa kebijakan dan aksi kepeloporan untuk menyelamatkan kawasan Danau Toba. 

Nyaris tidak ada insiatif cerdas dan kreatif yang sifatnya komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk menyelamatkan Kawasan Danau Toba. Mereka asyik berdalih, otoritas dan peran tersebut ada di pemerintah pusat, bukan di pemerintah daerah. Padahal kalau mereka serius, dan bila dikaitkan dengan desentralisasi politik, pemerintah daerah sejatinya memiliki banyak ruang dan peluang untuk mengembangkan sebuah strategi komprehensif mengelola kawasan Danau Toba, tanpa harus menunggu "petunjuk" Pemerintah Pusat. 

Dikelola dengan "Apa Adanya"

Namun kenyataannya pemerintah daerah justru mengelola dan menyelamatkan kawasan Danau Toba dengan "apa adanya", salah satunya dengan menggelar "ritual" Pesta Danau Toba dan seremoni penanaman pohon. Sepintas agenda tersebut terlihat mulia. Namun kalau ditelisik lebih mendalam, agenda pesta ini cenderung tak lebih dari sekadar agenda "ecek-ecek" karena pada akhirnya hanya menjadi ajang pencitraan elit, dengan menjadikan Danau Toba sebagai etalasenya. 

Kesimpulan tersebut didasarkan sejumlah alasan. Pertama, penyelenggaraan agenda "ritual" tersebut telah mereduksi upaya mengatasi nestapa Danau Toba menjadi sebatas seremoni. Agenda pesta tersebut seolah ingin mengobati ‘sakit kanker’ Danau Toba dengan obat flu. Menggelar pesta dan menanam pohon boleh-boleh saja. Namun pengelolaan dan penyelamatan kawasan Danau Toba bukan soal menanam pohon dan pesta semata. 

Soal yang paling fundamental adalah penegakan hukum bagi perusak lingkungan Danau Toba, perumusan visi pengelolaan Danau Toba, dan asessement dan strategi desain baru tata kelola kawasan Danau Toba yang berbasis kultural dan struktural. 

Kedua, agenda "ritual" tersebut sepertinya tidak didasarkan pada paradigma managemen proyek modern.Agenda "ritual" tersebut tidak didahului dengan dedah kebutuhan dari masyarakat bawah, tidak memiliki sasaran dan outcome yang jelas dan terukur, dan nihil evaluasi. 

Jangan heran bila agenda tersebut (biasanya) tak meninggalkan jejak (kegagalan ataupun keberhasilan/progress), usai dilaksanakan. Lebih ironisnya, agenda "ritual" tersebut bahkan hanya mereplikasi agenda normatif sebelumnya yang sudah tidak relevan. 

Ketiga, agenda "ritual" tersebut masih mengedepankan mindset mobilitatif yang berporos pada elit dan menegasikan mindset partisipatif yang berporos pada masyarakat. Mindset demikian membuat kompetensi, historitas, kapasitas, dan partisipasi tidak menjadi pertimbangan. Hasilnya adalah kerja rancak serabutan. Hal itu misalnya terjadi pada Pesta Danau Toba. Dari tahun ke tahun kualitasnya justru terus melorot menjadi pesta kampungan karena dikelola secara inkonsisten (pesta dikerjakan orang-orang yang berbeda setiap tahunnya), dan irrasional (pesta dikerjakan dengan mental sim-sala-bim asal jadi). 

Padahal. secara empirik, pesta Danau Toba seharusnya bisa dibuat lebih baik dengan persiapan yang lebih serius dan matang. Apalagi kemudian anggaran untuk Pesta Danau Toba jumlahnya milyaran rupiah. 

Aktor berikutnya yang yang harus bertanggungjawab atas nestapa Danau Toba tentunya adalah masyarakat, khususnya elit politik, aktivis, intelektual, dan mereka yang menamakan dirinya sebagai togam (tokoh agama) dan tomas (tokoh masyarakat) di Sumut. Mereka ini adalah pihak yang sejatinya langsung dihidupi dan hidup dari hamparan kawasan Danau Toba namun di saat bersamaan ikut juga merusak dan "membiarkan" nestapa Danau Toba terjadi. Padahal sesungguhnya mereka memiliki otoritas sosial dan religius untuk menggalang gerakan penyelamatan Danau Toba. 

Ria Godang Danau Toba 

Walau menohok para pemangku kepentingan, opini ini tentu saja bukan sekedar mencari "kambing hitam" atas nestapa danau Toba. Artikel bernuansa satir ini sesungguhnya adalah upaya mendedah lebih mendalam silang sengkarut upaya penyelematan dan pengelolaan Kawasan Danau Toba. 

Opini ini hendak menegaskan bahwa upaya penyelamatan Kawasan Danau Toba yang normatif, instan, teknis, top-down, parsial, simplistis dan mengandalkan pendekatan regulatif semata, tidak lagi memadai. 

Pendekatan normatif yang mengedepankan pembentukan institusi baru, semisal Dewan Otorita Danau Toba, atau mencomot ide, semisal "Geopark", dari "seberang", rasanya juga tidaklah cukup. Upaya penyelamatan dan pengelolaan kawasan Danau Toba membutuhkan pendekatan ekstra yang berdimensi kultural, sekaligus struktural. 

Dimensi kultural bermakna pendekatan yang mampu menggerakkan dan melibatkan semua potensi dan kekayaan sosial budaya di masyarakat untuk menyelamatkan dan mengelola Danau Toba. Sementara dimensi struktural bermakna pendekatan yang mampu mengintegrasikan semua struktur politik negara untuk menyelamatkan dan mengelola kawasan Danau Toba untuk kelestarian lingkungan dan kesejahateraan rakyat banyak. Dalam budaya Batak dikenal Ria Godang, yakni sebuah musyawarah dan permufakatan yang melibatkan semua pemangku kepentingan, untuk melaksanakan sebuah agenda besar. Dan itu merupakan sebuah keharusan. 

Dalam konteks itu Ria, Godang atau sebuah musyawarah besar tentang Danau Toba menjadi strategis, urgen, dan terafirmasi untuk mencari strategi dan upaya penyelamatan Danau Toba. Gagasan Ria Godang atau Konperensi Besar tersebut tentu butuh energi dan biaya besar. Namun biaya besar untuk Ria Godang Danau Toba jauh lebih strategis dan berguna daripada menghabiskan biaya besar untuk agenda penyelamatan Danau Toba yang rancak serabutan tanpa arah!***

Penulis pengagum Danau Toba. Aktivis Ecodemocracy. Bekerja di Perhimpunan BAKUMSU




Sumber : Analisa

Kisah Timnas di Piala Dunia


Peristiwa itu terjadi 2014. Tim Nasional Indonesia berhasil lolos sampai babak perempat final Piala Dunia. Andibachtiar Yusuf mengemas suka cita yang menjadi angan-angan bangsa itu dalam film terbarunya: "Hari Ini Pasti Menang".
Mengisahkan perjalanan pemain Timnas Indonesia bernama Gabriel Omar Baskoro. Tak hanya meloloskan Indonesia hingga perempat final Piala Dunia 2014, penyerang klub Jakarta Metropolitan ini juga menorehkan prestasi sebagai pencetak gol terbanyak di sepanjang turnamen. Fiksi memang. Namun, sang sutradara berupaya memberi kesan natural dengan melibatkan sejumlah pemain Tim Nasional untuk sejumlah adegan di lapangan hijau, sepert i Edi Kurnia, Rockiputirai dan Ramdani Restaluhu.

"Total ada sekitar 25 pemain sepakbola sungguhan yang kami libatkan di sini," ujar pria yang akrab disapa Ucup itu saat mengunjungi kantor redaksi VIVAlife, Rabu (28/11).

Melibatkan sejumlah pemain Timnas sungguhan bukan perkara mudah. Kendala utama adalah soal pengaturan jadwal. Misalnya, ada pemain yang mendadak tidak bisa karena harus latihan mengingat sedang musim pertandingan.

Ucup bersikeras tetap melibatkan pemain-pemain Timnas sungguhan karena itu akan menjadi kekuatan film ini. "Justru wajah dan permainan merekalah yang membuat film ini tampak benar-benar dekat dan asli terjadi di Indonesia." Sementara bintang utama yang memerankan tokoh pahlawan Timnas Gabriel Omar Baskoro adalah seorang aktor pendatang baru: Zendhy Zain. Yang akan beradu akting dengan aktor Ibnu Jamil yang memerankan sosok Bambang Pamungkas.



Sumber : Analisa

Kate Moss dan Naomi Campbell Bugil Bersama


Kate Moss dan Naomi Campbell bugil bersama untuk majalah Interview. Di majalah tersebut, dua model papan tas itu juga mengenang kisah awal mereka menjadi model.
Dikutip dari TheSun, Naomi dan Kate meringkuk dalam warna hitam-putih. Naomi yang berada di depan, terlihat bagian dadanya, sedangkan Kate tubuhnya tertutup Naomi.

Di dalam malajan tersebut, keduanya saling memuji satu sama lain. Keduanya kemudian mengenang awal-awal mereka terjun sebagai model. "Aku membaca bahwa kamu tampil pertama kali dalam sebuah video Bob Marley?" Kate bertanya kepada Naomi.

"Ya. Aku berusia tujuh tahun, kalau tidak salah. Dia adalah pria tampan. Aku ingat aku mulai menangis ketika aku melihat gimbal karena aku pikir itu adalah cacing. Tapi dia benar-benar lembut," jawab Naomi.

Khusus Kate Moss, mantan supermodel ini memang terkenal suka berpose topless. Belum lama ini, wanita berusia 38 tahun tersebut juga topless saat berlibur di sebuah pantai di Spanyol. Kate santai ditemani kekasihnya, Jamie Hince (43).

Dikutip dari TheSun, Kate Kate sepertinya tak peduli meski banyak orang yang memperhatikannya, atau paparazzi yang mengambil fotonya.

Kate tampak santai berjemur, dan ia pun asyik bercumbu dengan Jamie di atas kursi panjang.

Kate sepertinya tak akan mempersoalkan sejumlah foto topless-nya beredar. Tak seperti yang dilakukan Kate Middleton, yang mengambil tindakan hukum setelah beberapa foto topless-nya saat berlibur di Prancis diterbitkan sebuah majalah di Prancis.



Sumber : Analisa

Mencari Solusi BBM Bersubsidi


Persoalan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi masih saja 
menjadi polemik di negeri ini. Seminggu terakhir, habisnya stok BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Medan membuat heboh masyarakat. Seperti diberitakan Harian Analisa terbitan Selasa, 27 November 2012, kehabisan BBM tersebut disebabkan karena kurangnya jatah BBM bersubsidi dari Pertamina.
Pernyataan dari pihak PT Pertamina Sumatera Bagian Utara, mereka melakukan pengendalian harian (kitir harian) dalam menyalurkan kuota BBM bersubsidi hingga 31 Desember 2012, untuk mengantisipasi kekurangan BBM pascaoverkuota. Kondisi ini yang menyebabkan terjadinya kekosongan di sejumlah SPBU, karena adanya upaya penyusunan jadwal pengiriman BBM bersubsidi secara ketat dan teratur.

Namun, pihak Pertamina tetap berharap masyarakat tidak melakukan panic buying, apalagi dengan munculnya isu kenaikan BBM pada akhir tahun 2012. Karena hingga saat ini, isu kenaikan BBM tersebut belum terbukti. Oleh karena itu, masyarakat harus tetap membeli BBM bersubsidi sesuai kewajaran, melakukan penghematan, dan jangan melakukan penimbunan dalam jumlah banyak.

Over Kuota

Untuk tahun 2012, DPR telah menetapkan kuota BBM bersubsidi sebesar 40,4 juta kl, terdiri atas premium 24,41 juta kl, minyak tanah 1,7 juta kl, dan solar 13,89 juta kl. Pada bulan September 2012, pemerintah mengajukan tambahan kuota sebesar 4 juta kl lagi. Namun, kuota yang telah ditetapkan tersebut masih saja kurang. PT Pertamina (Persero) memperkirakan akan terjadi over kuota mencapai 1,227 juta kl di akhir tahun 2012.

Berdasarkan data Pertamina, realisasi penyaluran premium secara nasional hingga 24 November 2012 sudah mencapai 25,2 juta kl (Harian Analisa, 26 November 2012). Wajar saja jika Pertamina melakukan pemotongan pasokan BBM bersubsidi per SPBU sebesar 10 persen mulai 19 November 2012 lalu. Selain itu, Pertamina juga terpaksa menyiapkan dana sekitar Rp 6 trilun untuk penambahan kuota.

Sementara itu, di Sumatera Utara hingga 21 November 2012, premium bersubsidi yang tersisa hanya 12 persen lagi, dimana 1,4 juta kiloliter (kl) sudah disalurkan. Diperkirakan juga akan terjadi over kuota premium sekitar 1-2 persen (Harian Analisa, 27 November 2012). Bahkan, pada April 2012 lalu, penyaluran premium mencapai 512 ribu, melebihi kuota hingga April 2012 yang hanya 433 ribu kl.

Hari Tanpa BBM Bersubsidi

Untuk tahun 2013, telah ditetapkan kuota BBM bersubsidi sebanyak 46 juta kl, naik 2 juta kl dari kuota tahun 2012. Namun, kuota tersebut bisa saja tetap mengalami kekurangan, jika konsumsinya tidak dibatasi. Apalagi jika melihat tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor, terutama kendaraan pribadi yang terus meningkat setiap tahun. Untuk itu, pemerintah harus menelurkan sejumlah kebijakan dalam mengerem konsumsi BBM.

Salah satu program yang dicanangkan pemerintah adalah Gerakan Nasional Hari Tanpa BBM Bersubsidi yang akan dilaksanakan pada 2 Desember 2012. Rencananya, semua SPBU yang beroperasi di Jawa-Bali dan 5 kota besar lainnya di luar Jawa, yaitu Medan, Batam, Palembang, Balikpapan dan Makassar tidak akan melayani penjualan premium bersubsidi selama pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

Sebagai gantinya, Pertamina menyiapkan alternatif bensin non subsidi, yaitu Pertamax dan Pertamax Plus. Melalui gerakan ini, Pertamina berharap dapat menghemat konsumsi premium bersubsidi hingga 15 ribu kl dengan nilai mencapai Rp 75 miliar (Harian Kompas, 26 November 2012). Diharapkan, semua masyarakat bisa mendukung gerekan nasional ini, demi menjaga ketercukupan kuota BBM bersubsidi hingga akhir tahun.

Memberlakukan 2 Harga

Selama ini, rencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi terus menjadi perbincangan hangat di Gedung DPR. Meski begitu, rencana tersebut belum terelisasi hingga saat ini, dengan pertimbangan bahwa negera seharusnya bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan rakyat atas bahan bakar minyak. Dalam hal ini, pemerintah harus tetap memberikan subsidi, meskipun hal tersebut mengakibatkan defisit keuangan negara.

Sebenarnya, menaikkan harga BBM bersubsidi boleh saja dilakukan, asal dengan perencanaan yang matang tanpa ditunggangi upaya politisasi oleh pihak-pihak tertentu. Misalnya, memberlakukan kebijakan dua harga (dual price), yaitu Rp6.000/liter untuk mobil pribadi sesuai usulan RAPBN-P 2012, sedangkan kendaraan umum, angkutan pedesaan, kendaraan barang/usaha kecil menengah, dan motor tetap Rp4.500/liter.

Dengan kebijakan seperti ini, kemungkinan defisit keuangan negara bisa ditekan hingga menjadi 2,5 persen. Angka ini sendiri masih di bawah ambang batas yang diizinkan dalam peraturan perundang-undangan. Dalam artian, konsumsi BBM bersubsidi setiap tahun bisa dikurangi walaupun tidak banyak. Namun, kebijakan ini tentu tetap akan berpengaruh terhadap keuangan negara, selain juga dapat mengatur distribusi subsidi.

Solusi Bersama

Sejauh ini, pemerintah memang sudah melakukan sejumlah solusi untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi. Salah satunya, upaya menjaga tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor dengan cara menaikkan nilai DP (down payment) untuk kredit sepeda motor sebesar 25 persen dari harga jual, dan minimal 30 persen untuk mobil. Dengan peraturan ini, diharapkan penjualan kendaraan bermotor mengalami penurunan hingga 25 persen.

Selain itu, pemerintah juga bisa menerapkan teknologi dengan sistem terintegrasi, seperti penggunaan kartu elektronik BBM (e-BBM) yang diusulkan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, atau penggunaan sistem teknologi pencatat pengguna BBM oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pada 2013. Dengan sistem ini, misalnya bisa diberlakukan batas maksimum penggunaan BBM bersubsidi per hari. 

Meski begitu, solusi bersama dari semua pihak tetap menjadi hal terpenting dalam menyelesaikan persoalan BBM bersubsidi ini. Dalam kasus ini, jangan hanya masyarakat saja yang diminta untuk melakukan penghematan melalui sejumlah kebijakan dari pemerintah. Namun, pihak pemerintah juga harus ikut melakukan penghematan, terutama para pejabat negara yang masih banyak menggunakan BBM bersubsidi.***

Penulis adalah peminat masalah lingkungan dan sosial budaya





Sumber : Analisa

Pertemuan Menteri Transportasi Asean Mantapkan Konektivitas 2015


Nusa Dua, (Analisa). Pertemuan Tingkat Menteri Transportasi negara-negara kawasan Asia Tenggara (ASEAN) ke-18 tengah memantapkan tujuan bersama yakni "ASEAN Connectivity" atau Konektivitas tahun 2015.
"Target kita adalah ASEAN Connectivity 2012 sudah bisa diimplementasikan, ini sudah 2012 dan 2013 nanti kita akan sampai pada kesimpulan sudah harus terealisasi di lapangan," kata Menteri Perhubungan E.E Mangindaan, di Nusa Dua, Bali, Kamis (29/11).

Menurut dia ada beberapa perjanjian di antaranya perjanjian perhubungan udara yang sedang berjalan yang dilakukan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand yang sudah tak mengalami kendala.

"Sudah tidak ada masalah, tinggal teknis maskapai penerbangannya," katanya.

Dia mengatakan bahwa maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia sudah siap menjalankan konektivitas tersebut.

Sedangkan maskapai penerbangan lainnya seperti maskapai penerbangan swasta nasional juga diminta kesiapannya memenuhi program bersama itu.

Menurutnya kesiapan dari maskapai penerbangan juga untuk memenuhi tantangan bersama yakni kebijakan "open sky policy" atau kebijakan hubungan udara yang terbuka di kawasan ASEAN.

Mangindaan menekankan kepada maskapai penerbangan bahwa selain adanya kesiapan menyongsong ASEAN 2015, juga kesiapan untuk bersaing dengan maskapai penerbangan di kawasan ASEAN sendiri.

"Jangan sampai kita kalah, ini harus diatur. Berapa tarifnya, berapa pesawat yang bisa masuk ke Indoensia, berapa pesawat kita yang masuk ke negara lain. Ini yang harus diatur agar tidak merugikan," ujar Mangindaan



Sumber : Analisa

Bea Cukai Sita HP, Harley Davidson hingga Mesin Ferrari Ilegal


Jakarta, (Analisa). Ditjen Bea Cukai melalui Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tipe A Tanjung Priok telah melakukan penindakan muatan kapal PT Pelni yaitu KM Kelud Voy.40 asal Batam tujuan Tanjung Priok pada tanggal 2 November lalu.
Pada penindakan tersebut terdapat 3.140 paket barang ilegal yang berhasil disita. Barang-barang ini diangkut tanpa ada dokumen lengkap.

Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono menyebutkan KM Kelud mengangkut 2.198 paket barang dengan 3 dokumen. Sayangnya, pada kenyataan di lapangan terdapat 3.140 paket yang tidak disertai dokumen.

Dari barang tersebut, terdapat 830 paket barang umum (tidak memiliki larangan/pembatasan) dan 2.310 barang yang perlu izin karena kena aturan pembatasan/larangan.

"Jadi seperti alat telekomunikasi, ini perlu sertifikasi Kominfo dan Kementerian Perdagangan, kendaraan bermotor harus ada pendaftaran tipe dari Kementerian Perindustrian. Hal ini untuk melindungi industri dalam negeri," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bea cukai, Jalan Ahmad Yani, Jakarta, Kamis (29/11).

Agung menyebutkan beberapa barang ilegal tersebut seperti bahan kimia/peledak, alat-alat kesehatan, alat telekomunikasi, alat-alat elektronika, kendaraan bermotor dan suku cadang, produk garmen dan alas kaki, produk kosmetik dan parfum, barang kena cukai, peralatan olah raga, mainan, dan lain-lain.

"Ini ada casing dan smartphone (HP), laptop, mesin Ferrari, dan ini ada motor Harley yang dipreteli," ungkapnya.

Agung menyatakan modus dari pengiriman barang ilegal ini kebanyakan masuk dari daerah Free Trade Zone (FTZ) seperti Batam. "Pemiliknya banyak, tersangka sedang kita dalami," ujarnya.

Agung menambahkan potensi kerugian negara dari tindakan penyelewenangan tersebut sekitar Rp 100 miliar.

"Harga barang ini diperkirakan sekitar Rp 500 miliar. Jadi dari pajak dan bea masuk sekitar Rp 100 miliar, tapi melihat barang-barang ini, saya perkirakan lebih," tandasnya.



Sumber : Analisa

Movie Review : ADA HANTU DI VIETNAM


Plaza 12.45 - 14.45 - 16.45 - 18.45 - 20.45
Thamrin, Binjai 13.00 - 15.00 - 17.00 - 19.00 - 21.00
Jordan (Guntur Triyoga), Bianca (Cinta Dewi), dan Nayya (Uli Auliani) berkunjung ke Vietnam untuk menjenguk kakak Bianca yang baru melahirkan. Bianca juga menawari teman lainnya, Ramon (Reymon Knuligh) dan Aziz (Aziz Gagap), tetapi mereka tak bisa ikut.

Di Vietnam mereka berkenalan dengan pemuda Indonesia yang jadi TKI, Ruben (Roger Danuarta). Bianca minta tolong Ruben mencarikan pemandu untuk menemukan alamat rumah kakak Bianca. Ruben memperkenalkan John dan Lucy, warga Vietnam pada mereka.

Karena sudah malam, mereka berenam menginap di rumah penginapan di pinggiran kota. Pemilik penginapan sepasang istri yang konyol, menyambut gembira. Ternyata penginapan itu dihuni sosok kuntilanak. Satu per satu mereka pun mengalami teror yang menyeramkan, sekaligus kocak. Jordan malah nyaris selingkuh dengan kuntilanak atau arwah gentayangan yang selalu tampil cantik, seksi, menggoda, dan haus belaian lelaki.

Kuntilanak tersebut bernama Jasmine. Ia hidup di masa pergolakan revolusi Vietnam. Jasmine tewas diperkosa para tentara Vietkong. Suasana penginapan jadi kacau balau. Mereka juga minta bantuan dukun Vietnam, tapi malah lari ketakutan.

Jordan, Bianca dan Nayya pun memutuskan pulang ke Indonesia. Melupakan tujuan menjenguk kakaknya Bianca. Mereka pikir keadaan sudah tenang sepulangnya ke Indonesia. Ternyata, hantu asal Vietnam itu mengikuti mereka. Kali ini, Ramon dan Aziz kena diteror hantu Vietnam.




Sumber : Analisa

Redakan Krisis di Mesir, Mursi Usulkan Referendum


Kairo, (Analisa). Badan penyusun konstitusi baru Mesir memulai melakukan voting atas rancangan akhir penganti dektrit presiden yang kontroversial, Kamis (29/11), langkah yang oleh sekutu Presiden Mohamed Mursi disebut untuk mengakhiri perselisihan.
Dua orang telah tewas dan ratusan lainnya cedera dalam protes yang dipicu oleh persoalan dekrit Mursi Kamis lalu, yang memberinya wewenang menyingkirkan lawan politiknya dan menggantikan mereka tampa tantangan hukum. Langkah semakin memperdalam celah antara kelompok Ikhwanul Muslimin dan lawan-lawan mereka.

Menciptakan celah konfrontasi lain, Ikhwanul Muslimin dan sekutu mereka telah menyerukan untuk menggelar unjuk rasa mendukung Mursi pada Sabtu di Lapangan Tahrir. Aksi protes duduk oleh lawan presiden telah memasuki hari ketujuh pada Kamis.

Ikhwanul Muslimin, kelompok Islam yang mendukung Mursi sebagai presiden pada pemilu Juni, diharapkan untuk mengakhiri krisis dengan mengganti dekrit kontroversial dengan konstitusi baru secara keseluruhan agar disetujui oleh referendum terkenal



Sumber : Analisa

Revisi Pajak Malaysia Ancam Daya Saing CPO Indonesia


Nusa Dua, (Analisa). Revisi Pajak Ekspor (PE) Crude Palm Oil (CPO) yang diberlakukan Malaysia mulai 2013 dinilai potensial mengancam daya saing minyak kelapa sawit mentah Indonesia.
"Terkait Malaysia yang merevisi PE CPO mulai Januari 2013, kalau Indonesia tidak melakukan sesuatu maka daya saing kelapa sawit Indonesia terancam," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joefly J. Bahroeny, di Nusa Dua, Bali, Kamis (29/11). 

Dalam acara "8th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2013 Price Outlook", Joefly mengatakan, kebijakan yang diterapkan pemerintah Malaysia itu potensial menggerus pasar CPO Indonesia yang sensitif terhadap perubahan harga terutama pasar India.

Pihaknya sekaligus mengimbau agar pemerintah Indonesia merespon hal itu dan merevisi PE CPO di tanah air. "Kami imbau pemerintah untuk bisa merevisi PE CPO ini," katanya.

Malaysia merevisi PE CPO salah satunya karena industri hilir sawit di dalam negerinya sedang berkembang pesat. Dengan perkembangan industri domestik itu, maka Malaysia dinilai tidak bisa lagi memanfaatkan nilai tambahnya untuk keperluan mereka.

Malaysia akan menerapkan PE progresif sebesar 4,5 persen saat harga CPO mencapai MYR2.250 hingga MYR2.400 permetrik ton (MT), sampai maksimal 8,8 persen untuk harga CPO di kisaran MYR3.450 sampai MYR3.600 per-MT.

Per-September 2012, ekspor CPO Malaysia mencapai 1,5 juta MT naik 4,9 persen dari Agustus 2012 sebanyak 1,43 juta ton.

Selama ini Malaysia memberlakukan Bea Keluar (BK) dan pajak pengiriman ekspor sebesar 23 persen flat alias tetap untuk harga berapapun.



Sumber : Analisa

Movie Review : LIFE OF PI


Hermes XXI 12.45 - 15.15 - 17.45 - 20.15
SUN (3D) 13.00 - 15.30 - 18.00 - 20.30
Seorang pria bernama Pi menceritakan kisah yang terjadi ketika ia berusia 16 tahun. Ketika keluarganya memutuskan untuk memindahkan kebun binatang mereka dari India ke Kanada, Pi menjadi satu-satunya orang yang selamat dari karamnya kapal kargo yang mereka tumpangi
Di atas sekoci, ia bersama hewan lainnya yang selamat, seekor zebra yang mengalami patah kaki, seekor hyena, orangutan betina dan Harimau Benggala agresif bernama Richard Parker. Hyena memangsa zebra dan kemudian orangutan. Setelah harimau memangsa hyena, Pi mencoba menangkap ikan untuk ia berikan kepada harimau sebelum ia sendiri menjadi santapan

Ketika petugas dari Departemen Kelautan tidak mempercayai ceritanya, Pi akhirnya mengubah kisahnya. Kali ini, ia mengaku bersekoci dengan ibunya, seorang pelaut dengan kaki yang patah, dan juru masak kapal, yang membunuh si pelaut dan Ibu Pi

Diangkat dari novel terlaris karya Yann Martel



Sumber : Analisa